|
|
|
sosial, politik, ekonomi secara asal-asalan
|
|
| |
Thursday, February 12, 2004
Dalam beberapa tahun ke depan, tampaknya Cina akan semakin memperkokoh posisinya sebagai negara dengan perekonomian paling kuat di dunia, menyusul negara adi daya Amerika Serikat.
Mengapa tiba-tiba saya tertegun dengan kinerja perekonomian negara ini?
Sekitar dua hari yang lalu, saya mendapatkan sebuah informasi bahwa negara tirai bambu tersebut menyerap hampir seluruh logam bekas (scrab) di pasaran internasional. Hanya dalam waktu sekitar empat bulan, harga scrab di pasar internasional meningkat dua kali lipat, dari sekitar US$250 per ton menjadi US$500 per ton, akibat terjadinya kelangkaan.
Dampaknya akan sangat terasa pada sektor manufaktur di beberapa negara berkembang. Indonesia misalnya, kalangan industri komponen otomotif saat ini sudah kesulitan untuk mendapatkan bahan baku bagi proses produksi mereka.
Saya juga teringat akan kenaikan harga tranportasi kargo kontainer pada pertengahan tahun lalu. Peningkatan tersebut terjadi di hampir seluruh rute pelayaran dan pelabuhan laut internasional. Informasi yang saya dapat, hampir seluruh kapal kargo yang ada pada saat itu sudah dicarter untuk mengangkut komoditas bahan baku industri manufaktur atau bahan-bahan lainnya ke Cina. Sehingga untuk mendapatkan kapal kargo, pelanggan (kalangan importir atau eksportir dari negara lain) harus berani membayar lebih agar pengiriman produk mereka tepat waktu.
Melimpahnya sumber daya manusia dan didukung dengan kemauan politis membuat perkembangan kinerja perekonomian di negara tersebut semakin baik.
Dengan melimpahnya sumber daya manusia, kalangan industrialis Cina mempunyai kelebihan untuk menggenjot sektor produksi mereka, apalagi hal itu juga didukung oleh etos kerja tinggi dan upah yang lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain.
Para industrialis Cina juga lebih mendahulukan pasar domestik mereka, sebelum mengekspor produk-produk mereka. Berbeda dengan, Indonesia misalnya, yang lebih mendahulukan pasar ekspor jika dibandingkan dengan pasar domestik.
Etos kerja buruh tinggi, upah rendah, dengan tingkat utilisasi tinggi, menghasilkan kapasitas produksi yang cukup besar. Amat sangat besar dengan daya serap domestik. Sehingga yang terjadi adalah, produk-produk Cina tersebut diekspor ke negara lain dengan harga yang bersaing. Di Indonesia misalnya, harga produk-produk Cina lebih murah jika dibandingkan harga produk dalam negeri.
Seorang manajer sempat menyatakan bahwa harga jual produk Cina di Indonesia sudah menyamai alokasi dana yang harus dikeluarkan oleh pengusaha pada tahap pengadaan bahan baku.
Kiprah Cina di Indonesia juga tampaknya sudah mulai terlihat pada awal dekade ini. Dimulai dengan beberapa investasi pada sektor mineral, lalu saat ini disusul dengan rencana peningkatan perdagangan antara Cina Indonesia melalui Kadin Indonesia Komite Cina.
Indonesia sendiri tampaknya belum akan bisa mengejar ketertinggalannya dengan Negara Tirai Bambu itu
7:27 PM
|
|
| |
|
|
|