|
|
|
sosial, politik, ekonomi secara asal-asalan
|
|
| |
Friday, July 04, 2003
Belajar politik praktis nih...
Gua dapet ini dari salah satu milis yang gua ikutin...
Saat ini kita semua ramai membicarakan masalah perang Iraq, tapi apa semuanya mengerti kenapa koq Amerika ngotot sekali pergi perang?
Orang awam rata-rata menduga-duga kalau perang Iraq ini karena:
01. Amerika mau menghancurkan Islam;
02. Amerika mau melibas terorisme;
03. Amerika itu memang bajingan tengik;
04. Bush itu dendam secara pribadi sama Saddam;
05. Ini ulahnya si Yahudi [si intelektual kriminal Perle & Wolfowitz] yang saat ini jadi penasehat utamanya Bush;
06. Ini perang salib modern, Amerika yang Kristen mau menghancurkan Islam supaya si Yahudi Israel bisa tetap eksis di Timteng;
07. Ini perang buat menguasai minyaknya Iraq...
08. Dan variasi-variasi lainnya.
Semua pandangan itu nggak 100% salah tapi juga "salah" karena itu semuanya cuman remeh temehnya saja. Itu semuanya tidak menjelaskan alasan utamanya perang Iraq ini dari sudut pandang si Amerika sendiri.
So, tujuan yang paling utama dari perang Iraq ini adalah:
----------------------------------------------------
1. Menyelamatkan dollar dari euro
----------------------------------------------------
Di matanya Amerika si bajingan yang menghadiahkan rezim Suharto ke Indonesia itu, dosanya Iraq yang terbesar itu adalah waktu Iraq [Saddam] tahun 2000 lalu minta ke PBB supaya semua minyaknya dibayar pake euro; plus semua duitnya [10 bilyun] dikonversikan ke euro dari dollar.
Semua orang waktu itu bilang kalau itu tindakan tolol karena euro waktu itu masih 90% dari nilai dollar dan euro pun dari sejak dilaunch [Jan 99] terus menerus terdepresiasi lawan dollar yang waktu itu demandnya memang kuat sekali karena penipuan akuntasi besar-besaran lagi terjadi di bursa efeknya -- dan investor asing pun perlu dollar buat main di bursanya.
Tapi, saat ini euro ternyata sudah terapresiasi sebesar 17% dari harga sebelumnya! Berarti, langkah "gilanya" si Saddam itu ternyata sangat menguntungkan dan bahkan jenius! Langkah ini sekarang pun sedang
dikaji sama Iran yang cuman mau terima transaksi minyak dengan euro
dan emoh dollar. Dan di dunia ini, kartel perdagangan yang terkuat itu cuman minyak saja. Kartel mobil, atau komputer, atau produk-produk lain praktis nggak eksis. Minyak -- siapapun harus beli minyak.
Terus perhatikan lagi, anggota OPEC itu rata-rata isinya adalah musuh-musuhnya Amerika yang nyata-nyata memang benci sama Amerika, kayak Venezuela, Iraq, rata-rata negara Islam.
Kalau semua anggota kartel minyak ini memang mau "jahat" dan main "evil" terhadap Amerika, maka caranya gampang sekali: mereka cukup bilang, kita sekarang cuman mau transaksi pake euro dan mampuslah dollarnya Amerika! Mampus serta bangkrut jugalah si kapitalis Amerika ini!
Kalau Anda nggak punya background ekonomi tentu bingung. Koq bisa bangkrut?
Nah, ini ekonomi 101: Anda di tangan punya uang tunai $1, maka secara ekonomi itu artinya adalah Anda memberi hutang ke Bank Federalnya Amerika dan Bank Federalnya Amerika itu "berjanji" akan membayar hutangnya sebesar $1 itu!
Sekarang, karena Anda tinggal di Indonesia yang rupiahnya sangat bloon itu; maka jelas secara rasional Anda berusaha terus memegang $1 ditangan itu dari pada ditukar ke rupiah. Iya khan! So, secara ekonomi itu artinya si Bank Federalnya Amerika nggak perlu menebus hutangnya karena toh hutangnya yang $1 itu tidak Anda minta bayar.
Artinya: Amerika itu bisa ngutang tanpa perlu bayar sama sekali -- [sepanjang ekonominya memang masih kuat!] sepanjang greenback atau dollar itu masih jadi standard pengganti emas.
Dengan alasan ini juga maka Amerika itu berani main defisit gila-gilaan selama ini karena toh mereka MEMANG nggak perlu membayar defisitnya sebab orang sedunialah yang harus mbayar defisitnya Amerika itu!
Supaya jelas lihat rupiah; kalau budget RI itu defisit maka negara RI harus nomboki dengan cara jual barang [eksport] atau cari utangan [CGI]. So, defisitnya negara kayak RI itu betul-betul adalah "defisit" yang harus dibayar; yang kalau nggak bisa bayar yach krismon!
Tapi Amerika lain! Defisit buat Amerika berarti justru malah positif karena defisit Amerika itu cara bayarnya adalah dengan cara memotong nilai $1 yang Anda pegang itu secara intristik. Berarti, kalau Amerika defisit maka yang rugi adalah Anda orang non-Amerika yang pegang dollar!
Cara kerjanya sistem ekonomi kapitalis yang imperialistik ini berlaku sepanjang orang kayak Anda dan negara RI itu masih "percaya" sama dollar dan menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dollar!
Eropa tahu persis tentang strategi makan gratis dan utang nggak perlu bayar ini. Karena itulah Eropa sekarang punya euro. Tujuannya Euro sebetulnya yach cuman satu itu: ikut menikmati utang gratisan dari orang-orang kayak Anda tadi.
Nah, celakanya..., sekarang banyak orang yang mulai diversifikasi cadangan devisanya! Cina yang punya cadangan emas nomor dua sedunia pelan-pelan sudah mendiversifikasi dollar dan euronya.
Sementara Jepang yang masih jajahan Amerika itu mau nggak mau terpaksa masih cuman bisa pegang dollar terus. Kemarin ini Jepang si jajahan Amerika
ini ditekan sama Federal bank buat intervensi dollar agar dollarnya bisa naik.
So..., KALAU dunia ini memang BEBAS, maka treasurer yang rasional bakal mendeversifikasi kekayaannya ke dollar, euro, emas dan portfolio lainnya.
BEBAS berarti treasurer tadi bisa memilih secara rasional tanpa tekanan politik atau pun tekanan militer dari US atau Eropa.
Tapi kayak saya tadi bilang..., semuanya itu dalam sekejab bisa berantakan KALAU mendadak saja semua negara penghasil minyak bilang "sekarang kita transaksi cuman pake euro"! Dan ini mungkin sekali karena semua negara perlu beli minyak! Sehingga tekanan dari negara penghasil minyak itu bakal membuat negara-negara tadi [kayak Cina atau Jepang] menjual dollarnya dan beli euro. Buat Amerika sendiri, ini berarti dia sekarang harus bayar utang! Dan tentu saja: kalau dalam sekejab Amerika pun harus membayar hutangnya dan mendongkrak Euro tadi, dalam sekejab pun ekonomi Amerika bangkrut berantakan persis
kayak waktu bank dalam di rush nasabahnya. Dan lebih mengerikan lagi, ekonomi Amerika pun bisa dalam sedetik bakal inflasi ribuan persen [karena semua jual dollar dan beli euro], perusahaan Amerika jadi nggak ada harganya [persis kayak krismon Indo 1998] dan ajaib -- orang Amerika pun jadi nggak beda sama pariah-pariah dari Afrika karena mendadak saja semua kekayaannya itu cuman kertas nggak nggak ada harganya.
Lebih sial lagi..., praktis Amerika bakal bangkrut sendirian karena Euro bisa jadi si penyelamatnya!
Sekarang bayangkan Anda jadi si Bush. Dari awal jadi presiden [Jan 2001] Anda sudah tahu persis ekonomi dunia ini bakal mengarah ke mana sejak Euro lahir. Dan secara faktual pun Anda juga sudah tahu bahwa si "bajingan" dari Iraq itu berani-berani jual minyaknya dan terima Euro [ perhatikan tanggalnya itu sebelum 911 dan juga: The euro reached record lows last week as it traded at 82 cents to the dollar, down 30
percent since its launch in January last year! Berapa keuntungan Iraq
dari langkah jeniusnya si Saddam itu!?]
Lebih jauh lagi, Anda pun tahu persis kalau Iran pun juga sedang merencanakan hal yang sama .
Sebagai Bush, job description kepresidenan Anda sekarang adalah menghancurkan ancaman Euro, mengimbangi permainan si eksportir minyak yang mau menghancurkan dollar [thus ekonomi Amerika] dan melancarkan kebijakan offensif! Secara ringkas, tugas itu adalah: mencegah sirkulasi Euro.
----------------------------------------------------
02. Nggak ada jalan damai
----------------------------------------------------
Sebagai Bush Anda melihat bahwa ekonomi Amerika [2001] lagi masuk tahap resesi. Harga stocknya sudah turun berantakan dan itu berarti aktivitas ekonomi bakal melesu. Melesu berarti investor yang sebelumnya HARUS menggunakan dollar untuk main di Wall Street itu sekarang mereka lebih bebas mendiversifikasikan portfolionya, termasuk portfolio forexnya.
Melesu pun berarti dollar secara alamiah bakal melemah karena orang Amerika sendiri memang terkenal nggak pernah bisa menabung.
So, sebagai Bush Anda mencari solusi dengan cara "damai" dan ternyata memang nggak ada solusinya untuk keluar dari ancaman Euro itu.
Berarti, sekarang yach harus pake cara kasar.
Nah..., cara kasarnya Bush [pra 9/11] yang dari awal sekali memang sudah cari gara-gara dan cari-cari musuh bisa dilihat kayak:
- Cina dinominasikan sebagai "strategic competitor" [Cina adalah salah satu negara kaya yang sudah nyata-nyata mendeversifikasikan assetnya ke Euro serta memberi tekanan inflatoir ke dollar];
- diplomat Rusia diusir dan dicap mata-mata [Rusia adalah penghasil minyak yang besar];
- politiknya Venezuela diobrak-abrik [Venezuela itu anggota Opec, sangat kritis terhadap Washington, pro Kuba, berani-berani ke Irak bertamu ke Saddam Hussein, tapi sialnya Amerika import minyak banyak sekali dari sana];
- sama orang Eropa cari gara-gara dan cari permusuhan dengan cari memboikot Kyoto Treaty;
- sama Korut, India, Cina dan negara-negara yang punya nuklir lainnya [terutama Rusia] si Bush nyata-nyata bilang kalau dia keluar dari ABM Treaty dan terus secara sepihak meneruskan program StarWars-nya si Reagan dulu -- yang otomatis kirim signal ke kanan kiri kalau Amerika memang lagi mau siap-siap perang!
Sialnya, selama 9 bulan si Bush cari gara-gara dan musuh ke kanan kiri buat dihantam namun --sialnya-- sama orang sedunia pun dia cuman dipandang sebelah mata sebagai si junior yang kekanak-kanakan! So, jalan damai buntu; cari gara-gara ke kanan kiri pun nggak ditanggapi serius.
Kalau Anda jadi Bush maka apa yang Anda lakukan? Tentu saja, kayak film 'Wag the dog', yach fabrikasi! Rekayasa dan bikin peristiwa gawe-gawean yang menggegerkan!
Itulah 9/11!
Anda yang Kristen, pro Amerika, benci Islam, tentu --kayak orang bangun dari hipnotis-- nggak percaya! Okey, tapi coba pertimbangkan fakta-fakta ini:
- tudingan si Islam itu secara legal sampe sekarang pun masih berlaku: sama sekali BELUM TERBUKTI kalau si Osama itu mendalangi 9/11;
- Amerika sendiri sudah menegaskan kalau 9/11 itu NGGAK PERLU DIBUKTIKAN LAGI karena memang "nggak bisa dibuktikan" kayak kasus kriminal biasa!
- nggak ada satu pun orang-orang Al Qaeda yang bisa didengar keterangannya. Mereka itu secara faktual cuman dituding --kayak yang di Jerman itu-- didakwa, tapi nggak dikasih kesempatan buat membela diri; dan kesalahan satu-satunya pun cuman "mentransfer duit" ke teman kosnya. 'Tak pikir kalau saya punya teman kos yang minta tolong untuk transfer duit, yach pasti dia 'tak bantu yach!
- Paul Wolfowitz si Yahudi yang jadi deputynya si Rumsfeld itu sudah bilang serta membayangkan: "some catastrophic and catalysing event? like a new Pearl Harbour".
- semua omong kosong tentang jaringan Al Qaeda itu ternyata cuman domino effect yang nggak ada isinya; kayak bom di Indonesia itu sekarang sudah nyata-nyata terbukti nggak ada kaitannya sama sekali sama Al Qaeda. Yang di Filipin pun sama saja; semuanya itu praktis cuman gejolak daerah yang dipas-paskan agar bisa masuk ke format fabrikasi 911 itu.
Dan yang terpenting, siapa yang paling diuntungkan dari 911 itu? Cuman satu orang saja khan! Yach si Bush plus administrasinya ini; plus cuman satu negara saja, yaitu yach Amerika sendiri!!
Nah, Amerika saat ini praktis sudah menguasai Afghanistan secara politik -- tidak secara "real" karena yang dikuasai penuh itu praktis cuman Kabulnya saja, sementara Amerika nggak berani ke daerah-daerah diluarnya.
Selain Afghan yang berbatasan langsung sama Cina [si kompetitornya Amerika itu] , yang terpenting juga Amerika sekarang sudah melebarkan pengaruh-pengaruhnya ke negara-negara Asia tengah.
Anda mungkin sudah mendengar itu, tapi Anda mungkin belum tahu bahwa
pengaruh Amerika ke Asia Tengah itu sekaligus membubarkan rencana Cina
untuk membangun pipa minyak yang melintasi negara-negara itu karena Cina memang langka minyak dan sangat perlu sekali suply minyak buat industrinya. Buat si Washington, sekali pukul strategi ini bisa langsung memandulkan banyak lalat! Mengangkangi minyak di Afghan dan di Asia Tengah, sekaligus mengurung ruang gerak Cina. Sementara di Selatan sendiri si Washington tanpa tahu malu sudah berbaik-baikan dengan India buat menggolkan tujuannya.
Perang Iraq sendiri sebetulnya dari dulu sebelum si Bush diseleksi jadi presiden pun juga sudah digariskan. Ini memang adalah golnya si Wolfowitz dan si Perle yang Yahudi itu. Tujuannya perang Iraq itu simple: menguasai cadangan minyaknya dan kemudian men-deter, kirim ultimatum ke kanan kiri -- terutama ke Iran -- untuk nggak main gila sama dollar, sekaligus ke Saudi Arabia yang barusan ini mentransfer uangnya keluar dari Amerika sebesar 200Bilyun! Nah, sekali si Bush dan US bisa menguasai minyaknya Iraq, maka itu sekaligus berarti dia bisa mengontrol Cina yang sangat butuh minyak!
Sekarang coba tanya, kenapa Perancis dan Jerman harus mati-matian menjegal advonturisme kriminalnya si Amerika ini? Apa karena Perancis dan Jerman itu manusiawi, cinta damai, menghargai HAM, sayang sama orang Irak?
Gombal!
Perancis dan Jerman tahu persis bahwa tujuan Amerika itu adalah buat menghantam Euro yang mereka berdua adalah penjaga gawangnya; karena itulah mereka pun ngotot harus menjegal rencana gila Amerika yang dalam segala cara mau mempertahankan status super powernya itu.
Sementara Rusia sendiri pro ke Euro karena dia memang mau lebih dekat ke Nato dari pada ke Washington. Rusia sendiri sudah profit lumayan banyak dari minyaknya, serta tahun depan ini pun dia sudah mau mbayar lunas semua hutang-hutangnya ke IMF & World Bank yang sangat dipengaruhi Washington itu.
Si Tony Blair sendiri memang kefefet habis. Secara geografis dia di Eropa tapi si Blair memang masih pake Pound, jadi dia pun nggak terlalu punya kepentingan sama Euro. Lebih jauh lagi, dollar yang kuat dan bisa mengimbangi Euro bakal menguntungkan si Pound yang ngos-ngosan.
Si Italy dan Spanyol dari sudut pandang EU yach memang bangsat karena bisa pro US; tapi itu sebetulnya lebih merujuk ke persaingan di dalamnya EU itu sendiri.
So, kita sekarang tahu persis kenapa si Washington ini koq bisa ndableg luar biasa kayak begini! Ini memang perang buat relevansinya si Amerika di masa depan! Ini memang masalah survivalnya Amerika!
----------------------------------------------------
03. Welcome back: Colonialism & Imperialism!
----------------------------------------------------
Buat negara dunia ketiga sendiri, tingkah polahnya Amerika ini artinya cuman satu: kita bakal kembali ke jaman kolonialisasi lagi. Washington itu sudah nyata-nyata bilang bahwa mereka bakal mengangkangi Iran dan menempatkan Gubernur Jendral di sana! Persis kayak di Jowo dulu ada si Gubernur Jendral londo di Batavia. Bedanya itu cuman kalau dulu komoditi yang diperebutkan adalah rempah-rempah, sekarang adalah minyak. Komoditinya beda, tapi strateginya sama saja.
Nah..., Anda yang merasa "modern" dan "ngerti finance" pasti bakal langsung mengkritik saya dan bilang:
- kolonialisme dan imperialisme itu sudah lawas karena sekarang ini
yang berkuasa itu CUMAN kapital yang nggak mengenal tapal batas negara;
- teori ekonomi modern itu menomor satukan 'competitive advantage' buat menarik serta memikat modal buat singgah di negara itu; sekarang ini sudah nggak jamannya lagi buat orang menguasai tanah, bangunan; karena costnya bakal terlalu gede mana secara politik pun itu sudah terbelakang!
- dan teori-teori text-bookist lainnya.
Okey..., itu memang betul SEPANJANG kapital itu sendiri cuman punya satu wajah! Sebelum 01 Januari 1999, kapital itu cuman punya satu muka: dollar. Kapitalnya memang bisa lari kanan kiri melintasi tapal batas kedaulatan negara, tapi bentuknya sendiri nggak berubah dan tetap saja adalah "dollar".
Tapi setelah 01 Januari 1999, kapital itu sekarang bisa punya muka Euro atau dollar. [Kita memang pernah eksperimen sama Yen, tapi jangan pernah lupa kalau Jepang itu yach masih jajahan si Amerika sejak dia kalah perang. Karena itulah Caucus Asia Timur pun gagal terus gara-gara Jepang masih dikangkangi sama si
Amerika].
So, karena power house-nya itu cuman satu [dollar & US], maka jelas si kapitalis yang menjaga gawang itu cukup menjaga nilai dollarnya saja tanpa perlu MENGUASAI teritorinya.
Tapi setelah Euro lahir, power housenya sekarang jadi ada dua sehingga mau nggak mau kedua power house ini pun harus bersaing untuk dipilih sama si pemilik modal. Situasi multiple power house inilah yang merubah semua aturan mainnya para kapitalis sedunia menjadi balik kucing persis di abad ke 16 waktu semua negara Eropa secara otonom adalah si power house itu sehingga mereka pun harus keluar mencari teritori perahan baru yang kemudian melahirkan kolonialisme.
Inggris ke India, Portugis ke Indonesia, terus Belanda mengalahkan Portugis
dan menguasai Indonesia, Perancis ke IndoCina dan Burma, Spanyol ke Filipina dan menemukan Amerika. Tujuannya para bule itu cuman satu: memback-up power housenya karena mereka harus bersaing satu sama lainnya gara-gara "ekspresi kapital" itu tidak tersatukan!
Nah..., JANGAN LUPA, ekspresi kapital yang cuman satu itu praktis baru dimulai sejak perang dunia ke dua berakhir dan semua bentuk kapital diekspresikan ke dalam dollar. Jangan lupa bahwa unifikasi ekspresi kapital itu umurnya praktis cuman 10%-nya sejarah kapitalisme sejak 1500-an. Dan jangan lupa juga bahwa sejarah sudah menunjukan kalau power house itu bakal bermunculan terus tanpa habis-habisnya, saling bersaing dan saling menghabisi!
So, karena itulah semua text book yang bilang "kapital itu berkuasa" sudah waktunya dibuang habis dari rak buku Anda! Tanpa dinyana kita bisa balik kucing ke model perekonomian Eropa abad ke 15-an yang para power housenya harus bersaing satu sama lain.
----------------------------------------------------
04. Akhirnya
----------------------------------------------------
Perang Irak memang sama sekali belum dimulai, tapi buntutnya mau kemana sudah bisa dibaca. Amerika mau mengaborsi si jabang bayi Euro agar dirinya bisa tetap jadi nomor satu. Jelas itu masuk akal buat interestnya si Amerika sendiri.
Perang Irak ini sendiri bisa diprediksikan bakal begini:
- kalau Amerika memang bisa menang perang dengan cepat, maka PASTI Amerika bakal mengkoloni Irak dengan alasan sekuriti taik kucing itu, terus menggedor Iran buat dikuasai sekalian [tetap dengan alasan palsu "terorisme"], terus menyerang Iran juga dengan alasan "pre-emptive strike", terus mungkin sekali Amerika pun bakal mendongkel si Saud yang dibenci kanan kiri dari Saudi itu sekaligus menempatkan satu Suharto di sana, membabat Palestina abis dan memindahkan mereka ke Jordan agar si anjing Israel bisa tetap bercokol di tanah terkutuk itu. Semua ini dengan mudah bisa dilakukan dalam waktu 2 tahunan kalau saja si Amerika memang bisa menang perang dengan cepat.
- kemungkinan besar sekali US nggak bakalan bisa menang dengan cepat karena --saya percaya-- muslim sedunia bakal melihat intervensi yang dikutuk kanan kiri ini persis sama kayak mereka melihat Soviet menginvasi Afghan. So, mujahidin bakal muncul lagi dan mudah-mudahan saja anjing-anjing FPI itu bisa kita eksport saja ke Irak supaya perang syahid beneran;
- saya percaya Cina [plus Rusia] nggak goblog dan mereka pun tahu persis pikirannya si Uncle Sam. Karena itulah, saya yakin mereka pasti bakal menggunakan si Korut buat mulai perang sama Amerika. Tembak saja
salah satu pesawat mata-matanya Amerika di Korut, maka otomatis si US
pun bakal kewalahan musti perang dibanyak front.
- Jerman & Perancis pun jelas nggak bakalan diem -- tapi saya nggak
bisa membayangkan persis apa yang bakal mereka lakukan. Saya masih kesulitan membayangkan mereka bakal buka front sama Amerika dan terus perang terbuka melawan Amerika -- karena mereka ini memang sekutu dekat. Tapi jangan pikir mereka bakal diam, karena mereka pun juga tahu persis tujuan perang Amerika ini yach cuman buat menghabisi Euro. 'Tak pikir, kemungkinan besar sekali mereka bakal memboikot produk Amerika, atau nagih hutang ke US kayak Inggris tahun 1930 dulu buat membangkrutkan Amerika; atau perang diplomatik di PBB [pasti!] mengutuk perang Iraq ini!
Saya sendiri, pribadi, yakin kalau ini adalah kiamatnya si Amerika! Saya nggak yakin Amerika bisa menang cepat dalam perang Irak itu! Ekonomi Amerika sendiri sekarang sudah masuk ke kategori "berbahaya" dan semua orang pun selalu saja menganalogikan situasi ini sama situasi Great Depression dulu. Sekarang banyak perusahaan bangkrut, investor asing pun banyak yang cabut keluar dari Amerika membawa uangnya out dari Amerika. Penganggurannya mulai mengerikan. Masa
depannya pun lagi suram.
Anda mau dikolonialisasi lagi sama satu negara imperialis kapitalis?
9:35 AM
Wednesday, July 02, 2003
US attack IRAQ (Something to ponder....)
Q: Daddy, why did we have to attack Iraq?
A: Because they had weapons of mass destruction honey.
Q: But the inspectors didn't find any weapons of mass destruction.
A: That's because the Iraqis were hiding them.
Q: And that's why we invaded Iraq?
A: Yep. Invasions always work better than inspections.
Q: But after we invaded them, we STILL didn't find any weapons
of mass destruction, did we?
A: That's because the weapons are so well hidden. Don't worry,
we'll find something, probably right before the 2004 election.
Q: Why did Iraq want all those weapons of mass destruction?
A: To use them in a war, silly.
Q: I'm confused. If they had all those weapons that they planned to use in a war, then
why didn't they use any of those weapons when we went to war with them?
A: Well, obviously they didn't want anyone to know they had those weapons, so they
chose to die by the thousands rather than defend themselves.
Q: That doesn't make sense Daddy. Why would they choose to die if they had all those
big weapons to fight us back with?
A: It's a different culture. It's not supposed to make sense.
Q: I don't know about you, but I don't think they had any of those weapons our
government said they did.
A: Well, you know, it doesn't matter whether or not they had those weapons. We had
another good reason to invade them anyway.
Q: And what was that?
A: Even if Iraq didn't have weapons of mass destruction, Saddam Hussein was a cruel
dictator, which is another good reason to invade another country.
Q: Why? What does a cruel dictator do that makes it OK to invade his country?
A: Well, for one thing, he tortured his own people.
Q: Kind of like what they do in China?
A: Don't go comparing China to Iraq. China is a good economic competitor, where millions
of people work for slave wages in sweatshops to make U.S. corporations richer.
Q: So if a country lets its people be exploited for American corporate gain, it's a good
country, even if that country tortures people?
A: Right.
Q: Why were people in Iraq being tortured?
A: For political crimes, mostly, like criticizing the government. People who criticized
the government in Iraq were sent to prison and tortured.
Q: Isn't that exactly what happens in China?
A: I told you, China is different.
Q: What's the difference between China and Iraq?
A: Well, for one thing, Iraq was ruled by the Ba'ath party, while China is Communist.
Q: Didn't you once tell me Communists were bad?
A: No, just Cuban Communists are bad.
Q: How are the Cuban Communists bad?
A: Well, for one thing, people who criticize the government in Cuba are sent to prison
and tortured.
Q: Like in Iraq?
A: Exactly.
Q: And like in China, too?
A: I told you, China's a good economic competitor. Cuba, on the other hand, is not.
Q: How come Cuba isn't a good economic competitor?
A: Well, you see, back in the early 1960s, our government passed some laws that
made it illegal for Americans to trade or do any business with Cuba until they stopped
being Communists and started being capitalists like us.
Q: But if we got rid of those laws, opened up trade with Cuba, and started doing business
with them, wouldn't that help the Cubans become capitalists?
A: Don't be a smart-ass.
Q: I didn't think I was being one.
A: Well, anyway, they also don't have freedom of religion in Cuba.
Q: Kind of like China and the Falun Gong movement?
A: I told you, stop saying bad things about China. Anyway, Saddam Hussein came
to power through a military coup, so he's not really a legitimate leader anyway.
Q: What's a military coup?
A: That's when a military general takes over the government of a country by force,
instead of holding free elections like we do in the States.
Q: Didn't the ruler of Pakistan come to power by a military coup?
A: You mean General Pervez Musharraf? Uh, yeah, he did, but Pakistan is our friend.
Q: Why is Pakistan our friend if their leader is illegitimate?
A: I never said Pervez Musharraf was illegitimate.
Q: Didn't you just say a military general who comes to power by forcibly overthrowing
the legitimate government of a nation is an illegitimate leader?
A: Only Saddam Hussein. Pervez Musharraf is our friend, because he helped us invade
Afghanistan.
Q: Why did we invade Afghanistan?
A: Because of what they did to us on September 11th.
Q: What did Afghanistan do to us on September 11th?
A: Well, on September 11th, nineteen men -- fifteen of them Saudi Arabians hijacked
four airplanes and flew three of them into buildings, killing over 3,000 Americans.
Q: So how did Afghanistan figure into all that?
A: Afghanistan was where those bad men trained, under the oppressive rule of the
Taliban.
Q: Aren't the Taliban those bad radical Islamics who chopped off people's heads
and hands.
A: Yes, that's exactly who they were. Not only did they chop off people's heads and hands,
but they oppressed women, too.
Q: Didn't the Bush administration give the Taliban 43 million dollars back in May of 2001?
A: Yes, but that money was a reward because they did such a good job fighting drugs.
Q: Fighting drugs?
A: Yes, the Taliban were very helpful in stopping people from growing opium poppies.
Q: How did they do such a good job?
A: Simple. If people were caught growing opium poppies, the Taliban would have
their hands and heads cut off.
Q: So, when the Taliban cut off people's heads and hands for growing flowers,
that was OK, but not if they cut people's heads and hands off for other reasons?
A: Yes. It's OK with us if radical Islamic fundamentalists cut off people's hands for
growing flowers, but it's cruel if they cut off people's hands for stealing bread.
Q: Don't they also cut off people's hands and heads in Saudi Arabia?
A: That's different. Afghanistan was ruled by a tyrannical patriarchy that oppressed women
and forced them to wear burqas whenever they were in public, with death by stoning as
the penalty for women who did not comply.
Q: Don't Saudi women have to wear burqas in public, too?
A: No, Saudi women merely wear a traditional Islamic body covering.
Q: What's the difference?
A: The traditional Islamic covering worn by Saudi women is a modest yet fashionable
garment that covers all of a woman's body except for her eyes and fingers. The burqa,
on the other hand, is an evil tool of patriarchal oppression that covers all of a woman's
body except for her eyes and fingers.
Q: It sounds like the same thing with a different name.
A: Now, don't go comparing Afghanistan and Saudi Arabia. The Saudis are our friends.
Q: But I thought you said 15 of the 19 hijackers on September 11th were from
Saudi Arabia.
A: Yes, but they trained in Afghanistan.
Q: Who trained them?
A: A very bad man named Osama bin Laden.
Q: Was he from Afghanistan?
A: Uh, no, he was from Saudi Arabia too. But he was a bad man, a very bad man.
Q: I seem to recall he was our friend once.
A: Only when we helped him and the mujahadeen repel the Soviet invasion of
Afghanistan back in the 1980s.
Q: Who are the Soviets? Was that the Evil Communist Empire Ronald Reagan talked
about?
A: There are no more Soviets. The Soviet Union broke up in 1990 or thereabouts, and now
they have elections and capitalism like us. We call them Russians now.
Q: So the Soviets ? I mean, the Russians ? are now our friends?
A: Well, not really. You see, they were our friends for many years after they stopped
being Soviets,but then they decided not to support our invasion of Iraq,
so we're mad at them now. We're also mad at the French and the Germans
because they didn't help us invade Iraq either.
Q: So the French and Germans are evil, too?
A: Not exactly evil, but just bad enough that we had to rename French fries and
French toast to Freedom Fries and Freedom Toast.
Q: Do we always rename foods whenever another country doesn't do what we want
them to do?
A: No, we just do that to our friends. Our enemies, we invade.
Q: But wasn't Iraq one of our friends back in the 1980s?
A: Well, yeah. For a while.
Q: Was Saddam Hussein ruler of Iraq back then?
A: Yes, but at the time he was fighting against Iran, which made him our friend,
temporarily.
Q: Why did that make him our friend?
A: Because at that time, Iran was our enemy.
Q: Isn't that when he gassed the Kurds?
A: Yeah, but since he was fighting against Iran at the time, we looked the other way,
to show him we were his friend.
Q: So anyone who fights against one of our enemies automatically becomes our friend?
A: Most of the time, yes.
Q: And anyone who fights against one of our friends is automatically an enemy?
A: Sometimes that's true, too. However, if American corporations can profit by selling
weapons to both sides at the same time, all the better.
Q: Why?
A: Because war is good for the economy, which means war is good for America.
Also, since God is on America's side, anyone who opposes war is a godless
unAmerican Communist.
Do you understand now why we attacked Iraq?
Q: I think so. We attacked them because God wanted us to, right?
A: Yes.
Q: But how did we know God wanted us to attack Iraq?
A: Well, you see, God personally speaks to George W. Bush and tells him what to do.
Q: So basically, what you're saying is that we attacked Iraq because George
W. Bush hears voices in his head?
A: Yes! You finally understand how the world works. Now close your eyes,
make yourself comfortable, and go to sleep. Good night.
Q: Good night, Daddy.
3:54 PM
|
|
| |
|
|
|